Jatisrono Terkenal Sebagai Pen jual Kacang Mete Super

kacang mete superDesa Tanjungsari dari jaman dahulu terkenal sebagai penghasil makanan ringan berbahan penthol mete, buah dari jambu monyet. Atau yang lebih dikenal dengan kacang mete. Hampir 80% penduduk setempat, menekuni usaha mete. Ada yang bekerja sebagai petani –sampingan-, pengepul, tengkulak dan buruh ceklok (pengupas) mete di Desa setempat. Seperti halnya yang di lakukan oleh Narto (65th) dan Sami (55th). Dia mengaku, sejak tahun 1980-an, pasangan suami istri ini menekuni usaha menjadi pen jual kacang mete super, hingga sekarang. Ia bekerja dibantu anak anaknya. Narto setiap hari me-ngupas mente dibantu keluarganya. Dalam sehari hanya mampu menghasilkan 2 kg mete. Namun jika dibantu 4-5 anggota keluarganya bisa mencapai 5-7 kg mete.

Bahan baku mete glondhongan didapatkan dari masarakat sekitar. Baik dari pasar Jatisrono, Slogohimo, Jatiroto dan beberapa daerah Kecamatan tetangga lainnya. Terkadang dikirim tengkulak dari luar daerah. Harga mete glondhongan  Rp 10.000,-/kg. Mete kering siap goreng saat ini Rp 52000,-. Mete kualitas bagus Rp 60.000,-/kg. Sedangkan mete super  harganya Rp 70.000,- /kg. Agar bisa mendapatkan mete super maka harus disortir per-10 kilogram mete biasa. Padahal untuk mente satu kilogram ini dihasilkan dari 4 kilogram mete glondhongan.

Mete yang dihasilkan Narto-Sami ini dipasarkan ke daerah sekitar dan toko jajanan khas Wonogiri. Narto-Sami juga mempunyai pelangan tetap. Yaitu pedagang jajanan dari Wonogiri kota. “Bulan seperti sekarang ini sepi. Lima bulan sebelum lebaran banyak datang pesanan dari mana-mana,” ujar Narto kepada IW. Dalam sehari Narto-Sami bisa meraup untung minimal Rp.50.000,- saat sepi. Waktu lebaran bisa mendapatkan keuntungan jauh lebih banyak. Namun semua itu tergantung jumlah stok yang ada.